LIVERPOLL (GERRARD) AND PERSEBAYA1927(MARIO KARLOVIC)

     Pemain dan manajer klub sepak bola datang dan pergi. Namun tak semua benar-benar pergi, saat mengucapkan 'selamat tinggal'. Sebagian mencatatkan diri sebagai legenda, pahlawan yang akan selalu dikenang dan dihormati.Namun ada kalanya atribut 'legenda' tak selalu segaris dengan prestasi atau didefinisikan berdasarkan jumlah trofi yang diangkat. Para suporter memiliki parameter sendiri bagaimana seorang pemain dan manajer tinggal di hati mereka: loyalitas, dedikasi, dan penghargaan terhadap fans.

     Saat Steven Gerrard mengumumkan kepergiannya dari Liverpool akhir musim 2014-2015,seorang remaja di Indonesia yang saya kenal baik mendadak menangis. Sang ayah kebingungan,mengapa sang anak tiba-tiba menangis."Sudahlah, Pa. Aku mau menangis dulu," katanya.Sementara itu di Youtube,seorang bernama Lauren Masterson mengunggah video seorang ibu yang menangis saat mendengar kabar itu. Video itu sudah ditonton dua ratus ribu kali hingga Jumat (16/1/2015) malam.

      Ribuan kilometer memisahkan Surabaya dengan Mersesyide. Namun apa yang membuat seorang remaja tanggung merasakan kesedihan yang sama dengan seorang ibu di Liverpool sana? Apa yang membuat kecintaan terhadap Gerrard menembus demarkasi usia, gender, ras, dan bangsa? Kisah kontroversial rencana kepindahan Gerrard ke Chelsea bisa jadi acuan. Bagi sebagian pemain,keputusan pindah ke Chelsea itu mudah. Di bawah Jose Mourinho, klub itu tengah bersinar. Dana yang disuntikkan Roman Abramovich tak terbatas dan cukup kuat untuk menarik pemain bintang manapun bergabung. Hari itu, kendati baru memenangkan Piala Champions untuk kali kelima, Liverpool tak sebanding dengan Chelsea dari sisi apapun.

     Namun tidak bagi Gerrard. Pindah ke Chelsea bukan urusan mudah. Bahkan sang ayah memintanya untuk tidak pergi."I was suffocated by stress. My energy had gone,lost during all those frustrating trips in and out of Benítez‘ office. My head was banging. I was eating paracetamol like Smarties... It was the lowest point of my career. I broke down. Panic breakdown, complete mess... Could I hand in that Liverpool armband? Could I look the father I adore in the eye again? Could I really put on a Chelsea shirt and face Liverpool in front of the Kop?... No.No. No. I couldn‘t jump over the edge of the cliff.I could see the great possibilities of Chelsea, but my heart wouldn't let me leave Liverpool."Fans menjadi alasan bagi sebagian pemain,seperti Gerrard, untuk tetap tinggal dan berjuang untuk sebuah klub sepak bola. Fans atau suporter,menurut manajer legendaris Liverpool Bill Shankly,adalah satu dari trinitas suci dalam sepak bola.Bukan pengurus atau petinggi klub sepak bola."At a football club, there's a holy trinity - the players, the manager and the supporters.Directors don't come into it. They are only there to sign the cheques, not to make them out. We'll do that - they just sign them."Kecintaan dan penghormatan Shankly terhadap suporter membuat namanya abadi di Liverpool. Ia sendiri pernah mengatakan ingin dikenang sebagai sosok yang mampu membuat warga Liverpool bangga. "Above all, I would like to be remembered as a man who was selfless, who strove and worried so that others could share the glory, andwho built up a family of people who could hold their heads up high and say... WE ARE LIVERPOOL."


       Pernah suatu kali seorang polisi hendak membuang 'scarf' yang dilemparkan suporter ke arah Shankly. Shankly langsung menegurnya."Tolong jangan lakukan itu, Pak. Itu boleh jadi setara dengan jiwa seseorang."
Di Indonesia, saya teringat sosok Mario Karlovic,mantan gelandang Persebaya (1927) asal Australia. Dia satu dari sedikit pemain yang mendapat kehormatan tercantum dalam 'banner' suporter Bonek. Jarang seorang pemain asing benar-benar mendapatkan rasa hormat sangat besar dari Bonek, selain mereka yang mampu membawa trofi untuk Persebaya, seperti Jacksen Tiago.

    Namun Karlovic berbeda. Dia memang belum membawa trofi bergengsi bagi Persebaya, selain
Piala Permai atau Unity Cup pada 2012. Satu hal yang membuatnya dihormati para Bonek adalah penghargaan dan kepeduliannya terhadap para suporter.Karlovic senang hati memberikan jersey Persebaya miliknya untuk dilelang secara online,dan hasil lelang itu digunakan untuk membantu keluarga Evril Yudha, Bonek yang meninggal dunia karena sakit keras pada medio 2013. Jersey itu ditandatangani Karlovic. "Setelah lelang ditutup,saya punya kejutan lain untuk Bonek dan keluarga Evril," katanya.Karlovic mendapat kabar soal Evril dari salah satu Bonek. Ia sebenarnya ingin menjenguk, namun Evril sudah meninggal dunia. "Kehilangan seorang anak dalam usia muda tentu hal yang sangat menyedihkan bagi keluarga itu. Saya dan kawan saya kemudian punya ide melelang jersey saya,dan uangnya akan diberikan kepada keluarga Evril," katanya.

    Karlovic menawarkan jersey yang dipakainya saat melawan Arema di Malang, beberapa waktu lalu.Saat itu ia mencetak gol ke gawang klub berjuluk Singo Edan tersebut. "Saya pikir hadiah yang paling bagus buat seorang Bonek adalah jersey milik pemain Persebaya," katanya. Apa motivasi Karlovic? "Saya bukan orang kaya,tapi jika bisa membantu, saya akan mencoba membantu," kata pemain asal Australia ini.Dalam pandangan Karlovic, suporter mencintai klub tanpa pamrih. "Saya pikir Bonek luar biasa,khususnya saat mendukung kami bertanding.Mereka membuat atmosfir hebat dan membantu kami memenangkan pertandingan. Pertandingan seperti saat melawan Arema dan Queens Park Rangers tahun lalu benar-benar 'amazing' dan saya tak akan pernah melupakannya," katanya.Karlovic tak hanya menyumbangkan jersey. Kamis malam, 27 Juli 2013, Ia mendatangi acara ritual pembacaan doa dan tahlil di rumah Evril. Ia datang sebelum acara tahlil dimulai dengan ditemani seorang sopir, dan sempat bertemu dengan orang tua Evril. Ia duduk berbaur dengan undangan lainnya dan mengikuti acara hingga selesai.Setelah acara tahlil, Mario menyerahkan jersey Persebaya miliknya kepada Annisa, yang mewakili Widiyantoro, pemenang lelang yang digelar Bonek.Jersey tersebut terjual dengan harga Rp2.041.981, sesuai dengan tanggal lahir Evril 20April 1981. Uang hasil penjualan jersey lantas diserahkan Mario kepada orang tua Evril. Usai bersalaman dan berbincang sebentar, Mario pamit."Kami dan keluarga terharu dengan perhatian Mario. Pernyataan dia soal Persebaya dan kedekatannya dengan Bonek sudah membuat kami jatuh cinta," kata Nanang Firdaus, salah satu Bonek.Sebelum pindah ke Malaysia, berbeda dengan pemain asing lain yang langsung pergi, Karlovic
masih sempat membuat surat pendek perpisahan kepada Bonek. Surat pendek itu dikirimkan ke sejumlah Bonek pada Desember 2013, dan akhirnya menjadi pesan berantai yang diunggah kesejumlah akun Facebook dan fans page."Dari hari pertama saya masuk Persebaya, sayabisa merasakan gairah klub dan suporternya. Sayatahu saya berada di tempat yang tepat," tulisnya.Karlovic berharap kelak bisa kembali dan bermain lagi untuk Persebaya (1927). "Saya tak akanmelupakan Bonek. Saya berkawan dengan banyak
orang di sini yang sudah saya anggap keluarga sendiri," katanya.

"Kalian suporter klub terbaik di mana saya pernah bermain," puji Karlovic. Sebelum bermain di
Persebaya selama dua musim, ia bermain di Adelaide City Force (serie A Australia) 1999-2002,AS Cittadella (serie B & C1 Italia) 2002-2006,Torino (serie A Italy) 2006-2007, FC Chiasso (serie B Switzerland) 2007-2008, Viterbese (serie C2 Italia) 2008-2009, Brisbane Roar (serie A Australia) 2009-2010, Minangkabau FC (Indonesia) 2010-2011.

To all bonek:
These past 2 years have been amazing.From the first day I arrived to Persebaya,I felt the passion of the club and supporters.I know I was in the right place.For me you guys are the best supporters I have
ever played in front of..I am sad to leave but I have to for personal reasons.I hope one day to return here and play for you guys again.I will never forget my time here or you (bonek). I have made a lot of friends here
but I consider you all as family.Best regards. Mario

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer